JADILAH CERMIN BENING
Oleh Kuswaidi Syafi'ie
Kita laksana cermin yang bisa memantulkan cahaya sekaligus kegelapan. Memantulkan cahaya ketika kita sanggup menampung cahaya rohani Nabi Muhammad Saw. Memantulkan kegelapan ketika jiwa kita didominasi oleh kekelaman nafsu.
Semakin banyak seseorang memantulkan cahaya spiritual Sang Nabi Saw, berarti dia semakin mulia, semakin terpuji, semakin bermanfaat bagi kehidupan. Sebaliknya, semakin banyak seseorang memantulkan kegelapan, berarti semakin busuk dia, semakin nista, semakin destruktif bagi kehidupan. Sebagai cermin, cermin beningkah kita? Semoga kita bukan cermin yang kelam.
Andaikan kita merupakan cermin yang bening, tidak otomatis kita lantas boleh membanggakan diri karenanya. Malah sebaliknya. Kita mesti merasa sangat membutuhkan kemurahan Allah Ta'ala untuk terus mengukuhkan rohani kita. Bahkan kita harus merasa lebih membutuhkan hadiratNya ketika kita sedang dalam kebaikan dibandingkan ketika kita dalam kepungan dosa-dosa.
Andaikan kita merupakan cermin yang buram atau bahkan berkarat, itu bukan berarti akhir bagi segalanya. Itu merupakan wujud pendidikan spiritual tersendiri. Yakni, kita tidak boleh tidak harus segera berbenah. Menggosok daki-daki rohani dan menyesah dosa-dosa. Memasang kuda-kuda spiritual yang baru. Menyusuri lorong-lorong keinsafan dan pertobatan.
Menggosok batin dengan sejumlah riyadhah agar menjadi bersih untuk kemudian berkilau. Tidak bergerak atau menempuh proses rohani sendirian. Sebab, menempuh suluk dengan sendirian itu sangat riskan. Banyak godaan dan begal di tengah jalan. Tapi mesti dibekingi oleh orang yang sudah bisa dipercaya untuk memandu perjalanan spiritual menuju Allah Ta'ala. Wallahu a'lamu bish-shawab.
0 Komentar